Sabtu, 13 September 2014

Tak Sampai Semenit, Devi Kalahkan Petinju Morowali

POSO-Harapan kabupaten Banggai untuk menambah perolehan medali emas semakin dekat. Sabtu, (13/9) kemarin Devi Sigarlaki berhasil mengkandaskan perjuangan petinju putri asal Morowali tak sampai semenit. Saat ronde pertama dimulai, Devi langsung melancarkan serangannya. Blok yang dipertunjukkan petinju asal Morowali tak mampu menahan kerasnya pukulan variasi Devi.

Tersudut di pojok ring, Devi tak menghentikan serangan hingga wasit memisahkan keduanya. Ramadani, petinju putri asal Morowali tak mampu melanjutkan pertandingan. Melihat hal itu, Devi terlihat mengelengkan kepalanya seakan tak percaya lawannya telah menyerah sebelum bel ronde pertama selesai.

Melihat kondisi Rahmadani, wasit akhirnya menghentikan pertandingan dan menyatakan Devi menang TKO (tehnical knok out) dan berhak melanjutkan pertandingan ke babak final kelas 51 kilogram. Sehari sebelumnya, petinju putra asal Banggai, Muhammad Fadli juga berhasil masuk babak final usai mengalahkan petinju asal Buol di babak semifinal.

Dicabang olahraga lainnya yang masuk babak final antara lain; pencak silat, 5 atlet saat ini telah memasuki babak final, catur cepat dan catur kilat masih berlangsung. Kemudian balap motor dan billyard serta taekwondo masih berlangsung. Namun untuk cabor taekwondo yang lokasi pertandingannya dilangsungkan di Tentena, telah berhasil meraih satu emas, satu perak dan satu perunggu dan saat ini masih bertanding.

Peringkat sementara kabupaten Banggai di pekan olahraga provinsi Sulawesi Tengah ke VII di kabupaten Poso, saat ini berada di posisi ke lima dengan perolehan sementara 5 medali emas, 14 perak dan 24 perunggu.(*)

Kamis, 11 September 2014

Alan Karateka Banggai Sumbang Emas di Porprov Sulteng ke VII


POSO-Setelah catur memastikan tiga medali emas, rabu malam lalu, Kamis (11/9) kemarin sekira pukul 18.00
Wita cabang olahraga Karate utusan kabupaten Banggai kembali menambah perolehan medali emas dari kelas 55 kilogram putra, serta satu perak dari kelas Katak beregu putri.

Manager Karate Banggai, Yori Ntoi mengungkapkan perolehan medali emas yang berhasil direbut Alan Nuari dari kelas 55 kilogram putra serta satu perak dari kelas katak beregu putri telah menambah perolehan medali bagi kabupaten Banggai."Kita berharap dari kelas bebas putra bisa menambah perolehan emas," sebutnya.

Yori juga mengungkapkan jika di kelas bebas putra tim karate yang tengah dipertandingkan menargetkan tiga medali emas untuk menambah koleksi medali untuk kabupaten Banggai.(van)



Rabu, 09 April 2014

Golput Saat Pemilu, Mungkin Salah Tapi Itu Pilihan

Ngomongin soal Pemilu, seingatku pertama dan terakhir memilih tuh saat presiden SBY pertama kali nyalon. Saat itu memang saya memilih beliau, tapi kemudian saya merasa tak ada yang istimewah ketika pilihan kita itu menang. Sebab mereka yang terpilih akan menjadi yang terhebat, sementara kita tetap akan menjadi diri kita seperti apa adanya. Sejak saat itu, dalam momentum pemilu jenis apapun termasuk pilkades [pemilihan umum kepala desa] saya tak ikutan. Banyak yang berkesimpulan bahwa keputusan yang terus dipertahankan hingga pemilu 9 April 2014 ini, adalah hal yang keliru. Sebab menurut mereka, dengan menyalurkan aspirasi yang ada, kita dapat menjadi bagian dari perubahan akan proses ke depan bangsa ini. Saya sih, fine-fine ajah dengan pernyataan itu..:)

Kenapa? ya karena itu menurut mereka, tapi kita kan punya pandangan masing-masing. Dan apapun keputusan kita, adalah hal yang memang telah kita perhitungkan. Jika tidak memilih kita dikatakan bukan bagian dari NKRI, mungkin saya akan nyoblos, hehe. Karena saya adalah anak negeri yang cinta akan negeri ini, meskipun dari segala hal pemerintah banyak menjual aset-aset negeri. Punya kekayaan alam yang berlimpah, namun rakyat tetap ajah banyak yang melarat. Tapi apapun itu, saya adalah anak Indonesia sekarang dan sampai kapanpun.

Mungkin salah ya, tapi jujur kebanyakan dari mereka yang terpilih itu. Suatu saat akan lebih mengutamakan kepentingan pribadinya ketimbang kepentingan orang banyak. Buktinya sudah banyak. Contohnya, banyak kasus korupsi yang pada ujung-ujungnya tersangkanya adalah mereka [orang-orang yang kita anggap hebat dan kita percayakan untuk dapat menyampaikan aspirasi]. Mereka yang dipercaya, justru lebih banyak mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok, tanpa peduli akan nasib kita [memang sih, ada beberapa orang yang benar-benar bekerja untuk rakyat]. Namun, di dalam sana, sistemnya kolektif. Jika tidak ditemukan jalan keluar maka ujung-ujungnya voting, ya jelas kalah lah yang mau bekerja untuk rakyat.

Apalagi kepada mereka yang mencalonkan diri dengan menghamburkan banyak uang. Tak akan mungkin mau memiskinkan diri jika tak ada tujuan untuk memperkaya diri. Iya, mereka yang menghamburkan uang banyak, pasti nekad. Karena mereka yakin, kelak jika terpilih dapat memperoleh hasil yang lebih banyak lagi. Seperti yang biasa terdengar dari kicauan 'burung', mereka akan mendapatkan fee dari sejumlah proyek pemerintah. Tak hanya itu, dari gaji, uang makan, uang rokok, uang rapat hingga uang turun lapangan dan SPPD, hasil yang diperoleh juga sangat banyak. Padahal, kebanyakan dari mereka kerjanya, hanya datang, duduk, diam, terima amplop, lalu pulang.

Untuk satu daerah yang merupakan daerah kelahiran saya saja, beberapa peraturan daerah hingga selesai masa jabatannya tak kunjung terselesaikan. Tapi soal dana perjalanan, pasti selesai sebelum habis masa penggunaannya. So apa sih manfaatnya bagi kita ? kalau hanya karena dia yang mencalonkan adalah keluarga, teman, atau apalah, apakah kita nantinya juga akan dimudahkan dalam mencari pekerjaan ?

Momentum Pemilu legislatif 9 April 2014 ini, dalam keluarga tak hanya saya sendiri yang memilih Golput [Golongan Putih]. Tapi isteri sayapun memilih hal yang sama, meski hanya ikut-ikutan namun dirinya pun mengakui jika siapa saja yang terpilih dari hasil pencoblosan. Tak akan pernah mempengaruhi kehidupan atau perekonomian keluarga [biasa ibu-ibu selalu mikirnya soal dapur, hehe]. Namun itu ada benarnya, mereka yang terpilih nantinya bakal naik mobil berkaca gelap, saat kita menyapa. Jangankan balas menyapa, buka kaca mobilnyapun akan susah. Jadi pilihan kami 'golput' adalah yang terbaik, biarlah kami menjadi penonton yang baik dalam setiap momentum itu.

Maaf jika salah, namun itu adalah pilihan saya sampai saat ini !

"Kita adalah penonton yang baik, siapapun yang terpilih, untuk makan kita tetap harus bekerja,"

Selasa, 08 April 2014

Sejarah Singkat Berdirinya Luwuk Post

Untuk warga kabupaten Banggai dan sekitarnya, koran harian Luwuk Post mungkin sudah tidak asing lagi. Karena Luwuk Post sudah 6 tahun lebih mendedikasikan diri, untuk dapat memberikan sajian informasi yang menarik bagi pembaca setianya. Namun, dibalik itu semua. Adakah diantara kalian yang tahu sejarah berdirinya Luwuk Post ?
Nah..untuk yang belum tahu saat ini saya akan membagikan sedikit informasi mengenai sejarah Luwuk Post. Meskipun saya bukanlah bagian dari orang-orang pertama dalam sejarah berdirinya Luwuk Post, tapi dari beberapa wartawan senior saya kerap mendapatkan informasi bagaimana awal berdirinya koran 'Harian Pertama Terbesar di Kawasan Timur Sulawesi' itu. Penasaran, ini sejarah singkatnya.

Koran harian Luwuk Post mulanya adalah bagian dari Gorontalo Post. Beberapa wartawan di Gorontalo Post adalah putra asli tanah Babasal (Banggai, Balantak, Saluan). Merasa mampu memberikan informasi menarik terkait beberapa daerah di Gorontalo hingga daerah itu dikenal luas secara Nasional. Sejumlah wartawan putra asli Babasal itu kemudian mendapatkan pemikiran untuk memperkenalkan daerahnya. Setelah membicarakan bersama terkait keinginan itu, mereka kemudian menyampaikan ke pimpinan redaksi Gorontalo Post, yang kemudian disetujui.
Awalnya, yang diberangkatkan ke kota Luwuk pada tanggal 4 November 2006 untuk merintis Biro Gorontalo Post ialah Haris Ladici (asli Gorontalo, sekarang Pimred Luwuk Post), Gafar Tokalang (asli Masama, sekarang Pimred Warta Mamua), dan Nasri Sei (asli Batui, sekarang Wiraswasta), sementara beberapa lainnya seperti Herdianto Yusuf (asli Banggai, sekarang Direktur Luwuk Post) tetap 'stay' di Gorontalo Post untuk membantu proses editing berita dari Luwuk, serta pengiriman koran ke Luwuk. Setelah mempelajari lokasi sehari setelah tiba, ketiganya kemudian mulai merintis jalan untuk menyajikan berita-berita lokal, lalu dikirimkan ke Gorontalo Post untuk diterbitkan [dicetak].

Tak mudah memang saat itu untuk mendapatkan berita-berita menarik seperti saat ini. Pasalnya, sejumlah pejabat yang memiliki kewenangan untuk memberikan informasi terkait rencana pembangunan sangat tertutup kepada wartawan. Alhasil, berita yang disajikan hanya berupa berbagai keluhan masyarakat. "Susah sekali, setiap kali kita datang wawancara. Jawaban para pejabat ialah maaf ada masalah apa ya?" imbuh Haris Ladici menirukan pernyataan salah satu pejabat saat itu.

"Kalau tidak begitu, pasti mereka (pejabat, red) langsung mengatakan 'maaf belum ada uang'. Haduhh, jadi memang saat itu konotasinya, wartawan itu kalau mau muat berita mesti dibayar, padahal sesungguhnya tidak demikian," sambungnya.

Seiring berjalannya waktu, dan warga maupun para pejabat mulai memahami akan fungsi dan manfaat media. Kesulitan akan penyajian berita-berita lokal pun teratasi. Meski masih cetakan hitam putih, namun koran yang saat itu dikenal dengan nama "Pro Sultim" sudah melekat di hati masyarakat kabupaten Banggai (saat itu masih tergabung dengan kabupaten Banggai Kepulauan dan kabupaten Banggai Laut). Hari berganti hari 'Pro Sultim' terus menarik perhatian pembaca Banggai, permintaan berlangganan dan pemasangan iklan pun bertambah.

Dari yang awalnya masih dicetak di Gorontalo Post, dan hanya empat halaman, serta masih tergabung dalam koran harian Gorontalo Post. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 7 Juli 2007, Pro Sultim akhirnya mendeklarasikan berdiri sendiri dan berganti nama menjadi Luwuk Post (bukan Luwuk Pos). Terbitan Luwuk Post juga sudah tidak tergabung dengan Gorontalo Post,Saat itu kantor Luwuk Post masih mengontrak rumah warga di Jalan Pulau Masalembo kelurahan Simpong [tak jauh dari Lapas kelas IIB Luwuk].
Beberapa putra Babasal yang menjadi wartawan di Gorontalo Post pun kembali ke tanah kelahirannya, termasuk Herdianto Yusuf dan Zulhelmi Alting [saat ini menjabat Redaktur Pelaksana Luwuk Post]. Perjalanan untuk membesarkan perusahaan terus digenjot, dengan tetap memperhatikan penyajian berita yang menarik dan edukatif kepada pembacanya. Meski telah berdiri sendiri, Luwuk Post sebagai bagian dari jaringan JPNN Group tetap berkoordinasi dengan Gorontalo Post.

Sembilan bulan kemudian, minat pembaca meningkat. Permintaan untuk pemasangan iklan dan advetorial [iklan dalam bentuk berita dan foto] untuk kantor-kantor atau organisasi tertentu pun berdatangan. Alhasil, Luwuk Post mampu membeli sebidang tanah dan bangunan di Jalan Imam Bonjol kelurahan Bungin Timur, kecamatan Luwuk. 
Kantor Luwuk Post akhirnya dipindahkan, lalu memulai dengan cetakan 8 halaman. Tak berapa lama kemudian, Luwuk Post yang merupakan jaringan dari Jawa Post National Network (JPNN) Group, akhirnya mendapatkan jatah mesin percetakan sendiri. Terus berkembang, Luwuk Post akhirnya kembali mendapatkan mesin cetak warna dari JPNN. Dari yang awalnya sehari hanya cetak 150 eksplempar, naik menjadi ribuan ekplempar.

Bukannya tak memiliki hambatan, Luwuk Post adalah koran harian yang telah makan 'asam garam' terkait pemberitaan. Mulai dari ucapan terima kasih, hingga penyerangan dan pengrusakan kantor pernah di alami [ulah oknum yang tidak senang akan keberadaan Luwuk Post]. Tak mudah memang mengembangkan perusahaan media, karena tantangan selalu saja ada. Direktur Luwuk Post, Herdiyanto Yusuf saat berbincang dengan saya mengatakan, itu adalah hal yang biasa terjadi kepada orang-orang media, dan kita tidak boleh patah arang.
"Makanya kita jangan mudah terbuai oleh pujian, karena pujian itu adalah racun," ucap Herdianto Yusuf saat itu. Alasannya simpel, menurutnya orang yang kerap menerima pujian itu, rata-rata menjadi malas untuk mengembangkan potensi [kemampuan] diri dalam membaca keinginan publik. Dampaknya, kita akan ketinggalan perkembangan atau informasi terkait perkembangan dunia. Itu juga akan berpengaruh pada minat baca pelanggan.

Kini Luwuk Post yang juga memiliki Website sendiri [news.luwukpost.info] tak hanya dikenal oleh warga kabupaten Banggai. Berkat eksistensi dan kemampuannya memberikan informasi, kabupaten Banggai dan Luwuk Post kini dikenal luas. Bahkan, hingga ke Mancanegara, seperti Australia, Jepang dan Amerika juga kerap mengunjungi website Luwuk Post untuk mengetahui perkembangan kota Luwuk dan sekitarnya. Mayoritas mereka adalah masyarakat kabupaten Banggai dan sekitarnya yang merantau ke negeri orang.

Ya, demikianlah sejarah singkat Luwuk Post yang saya ketahui. Semoga informasi singkat ini bisa bermanfaat bagi pembaca setia Luwuk Post dimanapun anda berada. Tetap baca Luwuk Post ya..:) Kritikan dan sarannya juga dibutuhkan, bisa datang langsung atau kirim SMS melalui rubrik SMS yang disediakan. Mari bersama kita membangun Babasal.(*)

Ditulis oleh : Steven Pontoh/ Wartawan Luwuk Post

Minggu, 16 Maret 2014

Heboh Penemuan Bangkai Mirip Unta



Warga Heran Dengan Bentuknya Yang Aneh

LUWUK-Warga kilometer 8 kelurahan Tanjung Tuwis, kecamatan Luwuk Selatan dikejutkan dengan penemuan bangkai hewan aneh. Keanehan itu terlihat karena bangkai hewan yang sudah terlihat hancur itu menunjukkan bagian leher yang panjang, serta tubuh yang besar.

Bobb, warga setempat, Sabtu (15/03) kepada Luwuk Post menyebutkan jika bangkai hewan aneh tersebut sudah ada sejak hari Kamis. Namun, baru di hari Jumat dirinya bersama warga setempat menyambanginya. Saat melihat bangkai hewan tersebut sejumlah presepsi wargapun bermunculan, ada yang mengatakan bangkai itu adalah bangkai sapi, ada yang bilang jerapah, adapula yang mengatakan itu bangkai unta."Kalau sapi tidak mungkin, karena saya ini puluhan tahun pelihara sapi. Saya tau modelnya sapi itu bagaimana, liat tulangnya saja yang besar sekali sudah tidak mungkin sapi," jelasnya.

Jika bangkai hewan itu adalah Jerapah dan unta, sangat mustahil. Pasalnya, jerapah dan unta tidak ada di Indonesia. Jikapun ada maka tempatnya itu di kebun binatang."Nah, kebun binatang tidak ada di Sulawesi, hanya ada di Jawa. Tidak mungkin sampe sini bangkainya," tegasnya lagi.

Spekulasi lainnya yang muncul ketika awak media menyambangi bangkai hewan itu Minggu (16/03) kemarin, di pantai tak jauh dari pekuburan umum kilometer depalan. Saat itu, sejumlah warga mengatakan jika bangkai itu adalah bangkai hewan laut yang telah lama hidup [hewan purba]. Tapi jika itu hewan laut, mengapa tubuhnya berbulu, tanya warga lainnya. Kebanyakan dari warga yang ada berpendapat jika bangkai itu adalah bangkai unta."Bisa jadi kan kalau ada penyeludup, karena mati di perjalanan mereka coba hilangkan jejak dengan mengikat leher dan kaki dengan pemberat baru buang ke laut," kata salah satu warga.

Amatan Luwuk Post, tubuh hewan itu sangat besar untuk ukuran sapi dan hewan lainnya yang hidup di wilayah Sulawesi. Selain itu, dibagian tubuh yang dikatakan leher dan memiliki panjang sekira 2 meteran itu terdapat tiga ikatan tali nilon besar. Hal itu seakan menegaskan pernyataan salah satu warga yang mengatakan jika hewan tersebut adalah unta yang mati dalam penyeludupan.(*)

Rabu, 12 Maret 2014

Hidup Tak Hanya Menjadi PNS

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh tangis ribuan tenaga honorer kategori dua (K2) yang benar-benar mengabdi, namun tidak terakomodir dalam perekrutan CPNS. Hal itu ditenggarai karena adanya sejumlah tenaga honorer yang dinyatakan lulus, meskipun dalam kesehariannya mereka bukanlah seorang honorer [honorer siluman].

Jika seperti ini, siapa yang salah?

Melihat dari pokok permasalahan, sayapun merasa sejumlah pihak mesti sadar diri, terutama pihak Badan Kepegawaian Negara (BKN) hingga ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Kenapa? ya, karena mereka sesuangguhnya tahu berapa jumlah honorer yang dapat diangkat menjadi PNS, namun pada pelaksanaannya mereka seakan menutup mata. Alhasil, kericuhan saat pengumuman pun tak pelak di mana-mana. BKN tak ingin disalahkan dan melempar tanggungjawab itu ke pemerintah daerah masing-masing, tetapi mereka mengakui jika jumlah honorer sesuai data yang masuk dari tiap daerah sebanyak 600 ribu lebih, meskipun dalam data yang ada di BKN, mereka tahu jumlahnya hanya mencapai 120 ribuan saja se Indonesia.

Pertanyaannya, sudah punya data seperti itu mengapa masih mau dikibuli data dari daerah? mestinya BKN turun memverifikasi data yang ada, dan mengeluarkan yang memang sudah tidak aktif lalu mengangkat yang benar-benar mengabdi. Nyatanya, hal berbeda terlihat, BKN memberi kesempatan kepada oknum-oknum dari daerah untuk bermain. Hasilnya cukup fantastik, untuk kabupaten Banggai saja, ratusan orang yang tidak melaksanakan tugas sebagai honorer dinyatakan lulus.

Hal ini tentunya sangat merugikan mereka yang benar-benar menjadi tenaga honorer selama ini, puluhan tahun mengabdi tanpa gaji dan hanya berharap dari belas kasih orang, serasa tak terbalaskan. Negara ini seolah membunuh para pekerja yang sudah membuang waktunya untuk melaksanakan tugas pemerintah selama ini. Kecewa? sudah pasti, karena pengabdian mereka selama ini dengan harapan dapat direkrut sebagai PNS nantinya. Sayangnya, impian itu sirna hanya karena kesalahan pemerintah yang seenaknya mengacak data yang sudah ada.

Kini masing-masing daerah tengah melakukan verifikasi kembali terhadap sejumlah honorer yang telah dinyatakan lulus. Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan, yakinkah verifikasi itu akan berjalan dengan baik? pengalaman sebelum dilaksanakan ujian, pihak BKD pun diberi kesempatan oleh MenPAN untuk memverifikasi data-data para honorer yang dinyatakan lolos berkas, jangan sampai ada yang sudah tidak aktif. Nyatanya, verifikasi itu hanyalah formalitas, buktinya pada pengumuman kelulusan hasil ujian yang digelar Panselnas beberapa waktu lalu, sejumlah nama-nama orang yang tidak pernah melaksanakan tugas sebagai honorer dan selama ini bekerja sebagai karyawan swasta dinyatakan lulus. Lalu, masih percayakah kita dengan verifikasi yang dilakukan saat ini?

Kawan, masih banyak jalan menuju roma. Mungkin itu pepatah lama, yang masih bisa kita gunakan. Hidup tak hanya sebatas menjadi PNS, masih banyak pekerjaan yang juga menjanjikan jika kita benar-benar bekerja. Jangan berharap kepada mereka yang telah menjual hak-hak kalian, cobalah untuk menerima beginilah kondisi negara kita. Negara saat ini tak lagi memperjuangkan hak-hak rakyat, karena mereka [pejabat] untuk mencapai posisinya tak sedikit yang rela mengorbankan banyak hartannya, pastinya itu akan mereka cari kembali ketika duduk di posisi saat ini. Dimana mereka mencari kembalian itu? ya dari kalian. Kalian memang tidak memberikan harta masing-masing, tapi hak kalian dirampas, lalu diberikan kepada orang yang mau menukarnya dengan harta itu. Hanya satu jalan agar tatanan yang sudah rusak dan telah mendarah daging itu dapat dirubah, yakni keluar dan lawan. Meksipun membutuhkan waktu yang lama, ataupun tak berhasil sampai batas usia, namun perjuangan kita akan menjadi satu titik awal perjuangan generasi penerus bangsa yang benar-benar peduli akan negara kita.

Jangan percaya iming-iming yang diberikan, sebab tangis dan keluh kalian adalah sesuatu yang sangat mereka dambakan. Semakin kalian mengeluh dan menangis, saat itupula mereka semakin di dewakan pihak lain, yang akhirnya hanya akan menambah pundi-pundi mereka. Kita bukan anak kecil lagi yang diberi iming-iming langsung menerimanya, cobalah untuk menyimak lalu masukan ke logika, adakah kita yang jumlahnya ribuan itu bakal direkrut juga? tentu tidak. Karena jika iya, negara ini akan bangkrut hanya untuk menggaji kita. Meskipun menurut pendapat orang, negeri ini kaya, dari hasil tambang saja, tanpa bekerja seluruh penduduk indonesia dapat digaji jutaan rupiah, asalkan pemerintah benar-benar memanfaatkan tugasnya dalam menarik retribusi dari tambang dan menggunakannya tepat sasaran. Namun satu hal yang perlu diingat, negeri ini adalah negeri para bandit seperti apa yang dikatakan Iwan Fals, sedikit bahkan mungkin tak adalagi pejabat yang murni memperhatikan rakyat.

Seperti ungkapan Stallin "kau rampas kebun cokelatku, lalu kau tukar dengan cokelat", intinya kita dibayar dari hasil yang seharusnya menjadi milik kita. Semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, pasti berujung pada pembebanan pajak bagi warganya. Saat ini, semua yang menjadi hak rakyat dibebani pajak, yang dikatakan kesehatan gratis, sejatinya masyarakat dibebani pembayaran dan berharap ketika sakit akan dibiayai. Padahal pada prakteknya, obat-obatan bahkan ruangan pun tetap akan dimintakan sejumlah uang ketika kita sakit nanti. Hak yang sesungguhnya menjadi hak kita sebagai warga negara, ternyata hanya dinikmati segelintir orang yang dikenal dengan sebutan bandit itu.

Kembali lagi ke soal PNS, ketika kalian masuk dalam dalam struktur PNS [misalkan] nasib kalianpun belum tentu lebih baik dari hari ini, karena berbagai penindasan bakal hadir disana. Kita bisa berkaca dari pengabdian kalian selama ini, mereka yang telah mendapatkan gaji dan dijamin kehidupannya oleh negara malah duduk santai, sementara kalian yang dipaksa bekerja. Ketika hasilnya baik, maka nama mereka yang akan dikenal, tapi kalian akan terlupakan bagai butiran air yang mengalir di dasboard mobil. Tak usahlah menyesali apa yang terjadi selama ini, tetapi pandanglah kedepan dan raihlah perubahan untuk kehidupan kita yang lebih baik. Mungkin saja, nasib kalian akan lebih sukses ketika menjadi pendagang, pengusaha atau lainnya. Pandai-pandailah menggunakan kelebihan yang telah diberikan Penciptamu, karena tak ada manusia yang diciptakan tanpa kelebihan. Yang ada kita yang belum menyadari kelebihan yang kita miliki.

Biarkan para bedebah itu berkicau, tataplah kedepan dan tak perlu menoleh kebelakang untuk menyesalinya. Pengalaman itu cukup sampai disitu saja, jangan ditelan jika itu pahit. Karena jika yang pahit itu dibiarkan, maka kau akan menjadi terbiasa, yang akhirnya sampai kapanpun perubahan tak akan datang dalam hidupmu. Selamanya tertindas, selamanya tertekan, selamanya menjadi pesuruh dan hidup diatas telunjuk tangan orang lain, tanpa bisa menentukan arah hidup sendiri.

Semangat kawan, jalan yang harus kita lalui masih panjang, hidup kita masih penuh warna, jadikan pengalaman itu sebagai suatu yang dapat memacu semangat kita untuk berjuang dengan cara yang lebih baik, untuk kehidupan yang menggairahkan. Jadilah orang yang berbeda diantara kawananmu, dan kau akan terlihat menonjol tanpa keluar dari aturan yang ada.


"Jangan bungkam suara kritis"
OI_BATIK LUWUK BANGGAI

Kamis, 09 Januari 2014

"Say Hello" di Facebook, Gadis 15 Tahun Dibawa Kabur

Ditemukan Keluarga dan Polisi, Atas Bantuan Densus 88

LUWUK-Ini adalah peringatan bagi para orang tua, agar tidak membiarkan anak gadisnya bebas menggunakan media sosial seperti facebook dan jejaringan sosial lainnya. Pasalnya, salah satu gadis asal desa  Sumber Mulya kecamatan Nuhon kabupaten Banggai Sulawesi Tengah, dibawa kabur pemuda asal desa Bone-Bone Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat, yang jaraknya ratusan kilometer.

Sebut saja Mawar (15), gadis yang baru menginjakkan kaki di bangku SMA ini,  ditemukan keluarganya setelah sepuluh hari lamanya dibawa kabur ke kampung halaman sang lelaki. Diceritakan, awal mula kejadian keduanya berkenalan melalui jejaringan sosial Facebook. Merasa mendapat sambutan baik, AL si pria tersebut nekad mendatangi Mawar. Sebelum datang, AL sempat meminta kepada Mawar untuk mencarikan kos-kosan untuknya di Nuhon, sehingganya saat tiba AL langsung menempati kos yang dicarikan Mawar. Sejak itulah, hubungan keduanya semakin erat, setiap pulang sekolah Mawar selalu mampir ke kos sang pria kenalannya itu. Tak hanya sekedar berkenalan, keduanya bahkan telah beberapa kali melakukan hubungan layaknya suami isteri.

Dijanjikan bakal dinikahi, Mawar mau saja ketika diajak kabur oleh AL ke daerah asalnya. Namun, setelah beberapa hari tiba, janji AL untuk menikahi dirinya tak kunjung dilakukan. Mawar pun mulai merasa dibohongi. Namun, karena jarak yang jauh dan takut menghubungi keluarga, dirinya masih menunggu janji sang pacar. Sementara itu, keluarga Mawar pusing tujuh keliling mencari keberadaannya. Tak habis akal, pihak keluarga kemudian melaporkan kehilangan anaknya itu, atas kerjasama kepolisian polsek Nuhon dan kepolisian Bone-Bone, Mawar akhirnya berhasil ditemukan di desa Bone-Bone Sulawesi Barat. Tak hanya menjemput Mawar, polisi juga menangkap AL karena membawa kabur dan melakukan hubungan tak pantas kepada Mawar yang masih berstatus dibawah umur."Kita tau dia (Mawar,red) ada di Bone-Bone atas bantuan polisi melalui densus 88 yang melacak sinyal handphone Mawar. Saat tau, polisi dan keluarga langsung berangkat menjemput Mawar," terang salah satu kerabat dekat Mawar, Kamis (9/1) kemarin kepada sejumlah media saat persidangan tengah dilakukan dengan tertutup.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Luwuk, Shendy Pradana SH, saat dikonfirmasi juga membenarkan hal itu. "Berdasarkan pengakuannya, sejak tinggal di kos-kosan, Mawar selalu mampir, dan mereka telah melakukan hubungan badan hingga 10 kali. Selama 10 hari dalam pelarian itu, setiap harinya mereka melakukan hubungan badan sebanyak dua kali," kata Shendy Pradana SH usai persidangan.


news.luwukpost.info